Pages

Dynamic Blinkie Text Generator at TextSpace.net


Sunday, April 8, 2012

FILOSOFI KOPI: WHAT’S UR FLAVA?



Dari kecil hingga sekarang kopi menjadi benda yang wajib ada di rumah, lantaran ayah saya adalah perokok berat yang selalu ditemani kopi di pagi hari sebelum ke kantor dan malam hari sebelum berkutat pada tugas kantor, atau sekedar menghabiskan malam dengan papan caturnya. Sesekali saya mencoba sehirup dua hirup kopi dari cangkir ayah saya dan menurut saya rasanya tak seburuk warnanya!
            Ayah, ya ayah! Saya suka mengimitasi kebiasaannya, dari mendengarkan lagu-lagu barat, masak telur dadar dengan bawang yang banyak, sampai hobi berhadapan dengan komputer. Entah mengapa rasanya setiap kebiasaan ayah menurut saya itu keren, apalagi ketika ayah berkutat di depan komputer dengan paper dan jurnal penelitiannya, saya merasa seperti menjadi orang yang pintar jika seperti itu. Termasuk arti untuk sebuah kopi!
            Sewaktu duduk di SMA, ya sesuai dengan jiwa saya pada bidang tulis-menulis, saya memutuskan untuk masuk ekstrakurikuler KIR (Kelompok Ilmiah Remaja), dari divisi debat, karya ilmiah, hingga LCT pengetahuan umum. Tetapi, saya lebih didominasikan oleh guru saya untuk divisi karya ilmiah. Saat itu juga saya sudah menjadi seperti ayah, setiap malam berkutat pada komputer untuk mengejar deadline lomba. Tak jarang juga saya menangis sendirian di tengah malam yang hampir pagi karena penelitian saya belum kelar, ditambah lagi printer yang kehabisan tinta, yang membuat tangan saya bercelemotan hitam karena tidak pandai mengisi tinta printer. Alhasil karena sering seperti itu, saya menjadi sangat ahli dalam memperlakukan printer supaya terawat, awet, dan tidak cepat rusak, termasuk dalam hal mengisi tinta!
            Semuanya tidak terlepas pada secangkir kopi. Di kala terbangun di pagi hari dan saya sadari hanya menghabiskan dua jam untuk tidur, begitu pula jantung saya berdetak cepat, dan punggung yang sakit. Lama-kelamaan saya menjadi terbiasa seperti itu, bahkan pernah memecahkan rekor tidak tidur dalam hidup saya selama 36 jam! Hanya untuk mengolah data kuesioner menjadi sebuah bacaan ilmiah yang tidak menarik bagi remaja!
            Seiring berjalannya waktu, kopi menjadi teman setia saya walau saya hanya menganggapnya biasa saja. Tanpa saya sadari ternyata kopi cukup mempunyai banyak arti dalam kehidupan saya melalui beragam peristiwa yang coba saya pikirkan. Kebetulan suatu hari saya menonton film dengan seksama dan sangat serius, yaitu Claudia/Jasmine. Ketika hampir 75 menit film itu berlalu, saya baru menyadari bahwa Claudia adalah Jasmine dan Jasmine adalah Claudia, yang benar-benar membuat saya merasa sangat bodoh karena tidak bisa menebak cerita itu, padahal saya sangat konsentrasi menontonnya karena filmnya romantis. Tapi memang benar-benar susah ditebak! Jasmine adalah nama panggilan dari Claudia Jasmine yang pada usia 17 tahun biasa dipanggil Claudia. Terang saja tak terbesit dalam pikiran saya untuk menganggap bahwa Jasmine itu adalah Claudia, sebab Claudia 17 tahun diperankan oleh Kirana Larasati, dan Jasmine 30 tahun diperankan oleh Kinaryosih, tanpa penjelasan flash back! Semuanya satu alur! Claudia dan Jasmine sama-sama suka kopi, tetapi masing-masing kopi yang berbeda. Claudia suka kopi susu, sedangkan Jasmine suka black coffee. Setelah saya berpikir ternyata itu adalah transformasi kesukaannya yang berganti selera, tentu sebabnya adalah kisah kehidupan Claudia Jasmine pada film ini. Di akhir cerita, Jasmine membuka usaha coffee shop yang bernama CJ, sesuai dengan cita-citanya sejak dulu. Entah apa arti dari CJ sebenarnya, Claudia Jasmine-kah? Atau Claudia Jerry-kah? (Jerry, pacarnya Jasmine). Yang jelas saya bisa menangkap bahwa Jasmine sudah tidak takut lagi untuk menjadi Claudia terbukti di akhir cerita ia sudah bersedia minum kopi selain dari black coffee. Kesimpulannya, CJ adalah Claudia Jerry.





Begitu pula saya berpikir dan menyadari bahwa ketika kau menyicipi sehirup kopi pada suatu momen, maka rasa kopi itulah yang mengendurkan sarafmu membuatmu berkonsentrasi pada momen itu. (catatan: menurut ilmiah, kopi dapat mengendurkan saraf). Begitu juga saya yang terbiasa oleh kopi krimer racikan sendiri kala itu. Dan secara tidak sengaja saya sudah full addicted pada kopi. Semua ini juga didukung dengan tuntutan profesi saya karena dikejar deadline. Hal itu membuat saya survey tentang rasa-rasa kopi dari berbagai merk yang membuat saya menyukai merk-merk tertentu dan berkesimpulan, iklan yang bagus belum tentu memiliki rasa yang enak, atau merk yang booming sekalipun ternyata masih ada merk kopi lain yang lebih enak. Hal ini juga yang membuat saya terpaku pada merk tertentu atau kopi tertentu pula.
            Saya mulai mengamati untuk beberapa coffee mix. Cappuccino pada merk yang berbeda atau pada coffee shop yang berbeda ternyata memiliki rasa yang berbeda pula. Begitu juga untuk kopi-kopi lainnya. Bahkan ada sebuah coffee shop yang justru tidak memiliki rasa yang jauh beda dengan kopi-kopi berbeda yang tertera pada katalog. Entah itu pada kadar takaran atau apa, yang jelas setelah saya merasakan, mengapa moccachino-nya sama saja rasanya dengan cappuccino, hanya berbeda diberi foam atau tidak, bahkan tak berbeda pada café latte-nya. Ternyata kadar racikan bisa sangat memengaruhi rasa. Rasa yang kontras hanya bisa saya rasakan jelas pada kopi instan yang memberi tahu saya untuk membedakan rasa kopi yang beragam jenis. Dan dari itu pula saya mengetahui cara meracik café latte yang benar, bahwa kopi harus diseduh mendidih terlebih dahulu hingga larutannya menyatu halus, baru bisa dicampur dengan susu, dan hal ini menjadikan serbuk kopi tak tertinggal. Ternyata urutan meramu juga sangat memengaruhi rasa tentunya. Urutan meracik yang salah pun dapat menghancurkan selera karena bisa menghancurkan rasa. Menikmati kopi yang dihidangkan juga ada masanya, yaitu ketika kopi tidak terlalu panas dan belum mencapai pada suhu normal. Suhu normal adalah rasa kopi terburuk ketika kita menikmatinya.
            Selain soal rasa, kopi tidak terlepas dari seni. Seni melukis pada kopi pun telah menjadi bahasa dalam menikmati kopi. Kopi telah menjadi isyarat, komunikasi non verbal baru. Ini seperti sebuah penemuan, bahwa kopi bisa menjadi media komunikasi.




Pilihan saya jatuh pada Chococinno, karena campuran coklat dengan kopi menurut saya adalah jodoh. Sebab coklat dapat mempertajam rasa dari sensasi pahit kopi itu sendiri tanpa menghilangkan rasa asli kopi. Mereka benar-benar seperti pasangan serasi. Untuk Brown Coffee saya jatuhkan pilihan pada merk kopi instan Kopiko, karena rasanya pas dan mantap. Begitu pula untuk permen kopi, Kopiko tetap menjadi rajanya dibanding merk permen kopi lain untuk arti dari sebuah kopi itu sendiri.



Di zaman yang modern ini, alasan kesehatan bukanlah penghalang lagi agar bisa menikmati kopi. White Koffie atau kopi luwak yang merupakan kopi hasil fermentasi pencernaan luwak bisa menjadi solusinya. Kopi ini tidak mengandung asam yang bisa mengakibatkan gangguan lambung. Bahkan rasanya sudah diracik sedemikian rupa sehingga menyerupai kopi krimer. Bisa disuguhkan hangat maupun dingin.



Pada suatu ketika saat saya ingin menyendiri dan menenangkan pikiran, coffee shop menjadi tujuan saya. Karena di sana saya bisa menikmati rasanya, menikmati suasananya, bahkan berjam-jam tanpa pelayan yang protes bila berlama-lama di sana. Ini adalah tempat pelarian favorit bagi saya. Coffee shop juga memiliki kenangan tersendiri buat saya, ketika saya bertemu sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Kami bercerita di sana sambil menikmati suguhan kopi sesuai selera. Nuansa klasik ini semakin terasa oleh karena disain tempatnya, ditambah lagi ketika kami menceritakan kisah di masing-masing tempat kami berkuliah dan tanpa sadar menitikkan air mata, tanpa sadar pula sudah 3 jam kami bercengkerama.
            Saya yakin banyak orang di dunia ini yang punya filosofi kopi dalam hidupnya. Kopi pun bisa mengubah hidup kita, memengaruhi, memiliki arti, dan menjadi teman.
Ingat kopi, ingat sesuatu! Mencoba kopi, maka kamu akan merasakan sensasi. Merasakan sensasi, maka kamu akan memilih rasa mana yang cocok. Mengetahui rasa mana yang cocok, maka kamu akan menemukan filosofinya dalam hidupmu.... Bahwa mengapa kamu menyukainya atau bahkan mengapa kamu memilihnya.... Dan ada sesuatu di dalamnya yang sangat privasi yang akan kau temukan...., yang akan kau temukan sendiri di dalam jiwamu..., dan itu hanya terletak pada jiwamu....., tidak pada orang lain..., hanya kamu.....
So, What’s ur flava??!

* * *   

Friday, March 9, 2012

Kata-Kata Bijak Renunganku

"Jika kau merasa insan yang baik, dan dia pergi meninggalkanmu begitu saja, tentu kau akan merasa aneh. Tapi percayalah satu hal, Tuhan memisahkan kalian dengan cara-Nya sendiri dan memberikan arti di ujung kesabaranmu, bahwa dia bukan yang terbaik untukmu. Dan kau akan merasa hidupmu terlalu indah." :)


"Apa-apa yang Dia berikan padamu, hanyalah pelepas dahaga semata, sebagaimana Dia memberikan apa yang kau butuhkan, bukan apa yang kau inginkan. Jika kau merasa haus cinta, maka Dia menitipkan cinta pada kita untuk mencapai arti dan cerdas dalam bermain cinta. Jika kau haus agama, maka Dia mengambil sesuatu yang sangat kau cintai agar kau kembali pada-Nya, menjadi semakin dekat dengan-Nya, dan memohon dengan penuh penyesalan." :)

Saturday, March 3, 2012

MENUJU INDONESIA YANG MELEK HUKUM??? (Surat untuk Alanda Kariza)

Saya terpaku membaca curahan hati seorang Alanda Kariza. Meskipun kita tidak saling kenal, saya harap Alanda membaca blog saya ini. Saya sangat sedih begitu tahu kalau kasus di persidangan bisa merusak segalanya, termasuk rutinitas sehari-hari dalam keluarga. Saya sangat mencintai Ibu saya, sama seperti Anda Alanda. Saya sangat mengerti perasaan Anda. Dan saya yakin barangkali perasaan sayang yang Anda punya melebihi perasaan yang saya punya.


Kita bicara mengenai kasus hukum. Saya memang bukan basic dari hukum. Saya sama seperti Anda yang begitu geregetannya melihat hukum di Indonesia. Cita-cita saya sewaktu sekolah adalah pengacara. Karena saya suka berdebat dan saya sering membuat orang-orang terdiam tanpa bisa melawan pembelaan dari saya setiap diskusi atau debat. Saya selalu memenangkan perdebatan meskipun saya salah. Hal itulah yang membuat saya, termasuk teman-teman mengatakan kalau saya berbakat menjadi pengacara.


Namun takdir berkata lain. Saya memang anak IPA. Namun, saya bercita-cita bekerja dalam bidang sosial, karena itulah passion saya dan saya yakin saya bisa berjaya di sana. Saya agak mencibir ketika teman-teman satu sekolahan saya mendapatkan undangan PPA ke UI untuk jurusan IPS. Karena saya merasa jauh lebih pintar dari mereka dan saya merasa lebih pantas dibandingkan mereka. Hanya saja saya seorang anak IPA. Saya yang waktu itu ingin mengambil jurusan Hukum, Sastra Indonesia, Komunikasi, atau Hubungan Internasional, semua itu hanya khayalan belaka karena peluang yang saya punya kecil, termasuk dukungan orang tua yang minim. Saya hanya akan dihormati jika saya adalah insinyur teknik atau bekerja di Bank yang memakai seragam necis, stylish, dan rapi. Padahal saya merasa semua akan berbeda jika saya ke UI, karena atmosfer yang berbeda dan cara didikan di sana yang betul-betul menggembleng mahasiswanya untuk duduk di kursi wakil rakyat, memperbaiki Indonesia yang semakin parah dan runyam ini.


Alanda, saya sering bermimpi mengibarkan sang saka saat saya sakit. Karena apa? Karena terbaring sakit tak berdaya selalu mengingatkan saya pada saat terhambat untuk mengikuti tes Purna Paskibraka Indonesia. Dan kamu tahu?? Saya sudah 3 tahun mempersiapkan diri untuk menjadi PPI dan selalu mendapatkan posisi terbaik saat bertugas. Tetapi semuanya menjadi sia-sia karena keadaan saya waktu itu yang menghancurkan cita-cita saya. Saya sering menangis jika melihat pengibaran bendera di televisi 17 Agustus. Saya tidak pernah ingin melewatkannya pagi dan sore.


Alanda, rasa nasionalisme saya sangat besar. Saya merasakan nasionalisme yang menggebu saat dididik di Paskibra. (Bahkan saya masih hapal dan cakap dalam peraturan baris-berbaris saat ini). Begitupun juga saat saya melanjutkan kuliah. Saya sangat ingin berkecimpung di dunia di mana saya bisa digembleng menjadi wakil rakyat tanpa melewatkan sedikitpun isu-isu Indonesia yang menjijikkan ini. Saya yakin UI-lah tempat di mana seharusnya saya berada, tapi tidak untuk teknik, Alanda. UI-lah atmosfer di mana saya bisa bertemu dengan teman-teman penulis muda yang pikirannya sama dengan saya. Hanya saja kami keluarga yang berbeda. Mereka diizinkan untuk memasuki bidang yang mereka sukai, tidak seperti saya.


Alanda, saya memang tidak mengerti hukum. Tapi, nenek yang mencuri 5 biji kakao dipenjara 5 tahun, buruh yang mengambil kapuk sisa 2 karung dipenjara, dan pencuri semangka kebun karena ingin melepaskan dahaga harus membayar semangka itu dengan dipenjara 3 tahun. Semuanya membuat saya aneh.


Alanda, sama seperti ibumu yang mungkin entah kenapa saya yakin tidak bersalah. Karena perasaan suci seorang anak tidak akan pernah salah, sebagaimana yang kamu jelaskan di tulisanmu mengenai kasusnya. Apa hanya kita yang tidak mampu membayar pengacara yang mahal??????????? Iya kah?????????? Kalo memang benar iya, alangkah lucunya negeri ini, Alanda. Apakah kita harus membayar pengacara yang mahal dulu agar hukuman kita ringan????
Kalo memang iya, tentu saya akan menjadi pengacara sukarela untuk kasus-kasus yang memprihatinkan, jika saya pengacara kondang seperti Bapak Hotman Paris Hutapea, O.C. Kaligis, atau Ruhut Sitompul, tanpa meminta bayaran. Karena pengacara sejati adalah pengacara yang bermain dengan hati nuraninya, bukan bermain-main dengan hati nuraninya. Yang membela kebenaran dan keadilan.


Dan tunggu! Saya juga ingin bertanya, kenapa jaksa memberikan tuntutan yang tidak masuk akal?? Bahkan tidak mempertimbangkan hasil akhir yang tanpa dibarengi dengan prediksi berapa tahun hukuman yang jatuh pada akhirnya? Ini membuat saya lebih aneh lagi.


Alanda, saya ingin bercerita. Di tempat kelahiran saya, gubernurnya korupsi Rp20,6 M dan terbukti membuat rekening baru atas pajak Dispenda. Tetapi hanya hukuman 4 tahun penjara dan denda Rp200 juta. Jika ada remisi 17 Agustus, hari raya, dll, tentu hukumannya bertambah ringan. Sungguh tidak adil. Saya juga mau seperti itu jika saya merampok uang negara. Saya akan memberikannya kepada orang-orang susah. Dan sebagiannya lagi akan saya simpan dalam bentuk aset, restoran mewah, beberapa hektar kebun sawit, karet, dan kopi, beserta sapi-sapi perah yang gemuk. Setelah saya bebas dari kurungan, sapi-sapi saya sudah beranak pinak, restoran saya sudah membuka franchise di mana-mana, kebun saya menghasilkan, dan tentunya rekening saya menggembung tiada tara selagi saya makan tidur gratis di penjara yang bisa saja saya fasilitasi sendiri semau saya dengan uang yang saya punya, menyewa satu ajudan, satu sopir, satu bodyguard, dan satu pembantu. Saya lebih baik seperti itu, tidak apa-apa di penjara jika hukumannya cuma sekedar abal-abal seperti itu.


Sama seperti tidak adilnya Ibumu yang 10 tahun Rp10 M itu, sungguh tidak adil jika Robert Tantular mendapatkan hukuman yang lebih ringan.


Saya kecewa. Saya benar-benar kecewa dengan negara kita, Alanda. Indonesia yang selama ini saya puja, saya cintai, saya elu-elukan, bahkan saya bela dari tetangga sebelah karena mereka meng-klaim Bunga Rafflesia Arnoldii. Saya sangat sedih melihat Indonesia seperti ini.


Penegak hukum memang tidak punya hati nurani. Orang salah dibela asal bisa bayar mahal. Orang jujur idealis jadi korban. Semoga mereka diberi kesadaran dan dimudahkan lapang kuburnya, aamiiiiiiinn. Karena dosa mereka teramat besar dan menjijikkan....

Sunday, February 26, 2012

ADIK QORI, WHERE ARE YOU, DIK??

Udah lama banget aku nggak ketemu sama Adik Qori, sejak acara OMOB waktu itu, adik yang sangat berkesan buat aku dan sangat berbeda. Aku punya rencana untuk bikin sesuatu buat dia dan jadi kakak asuh buat dia. Tapi belom kesampean.



Waktu itu aku sengaja ke Palembang buat cari dia. Aku tunggu di tempat biasa dia nyemir sepatu atau mangkal sama temen-temennya. Aku menghabiskan waktu ke mall sebentar sambil nungguin anak SD pulang sekolah. Jam 13.00 siang aku udah stay di sana, berharap adik Qori ada. Tapi setelah ku tunggu-tunggu adik Qori tetep aja nggak ada.

Akhirnya aku keliling berharap kalo-kalo ketemu. Tapi tetep aja aku nggak nemu adik Qori. Padahal planning aku waktu itu untuk makan siang bareng, mau belanjain kebutuhan sekolah dia dan membeli beberapa Bobo bekas di tempat loak untuk bacaan di rumah, serta buku-buku Vocabulary English, karena aku ingin dia bisa Bahasa Inggris.
Aku terbayang sewaktu kecil dulu sebagaimana aku. Aku ingin masa kecil dia yang bahagia....

AKU KASIH TAU AJA YA.....

Banyak orang yang habis patah hati tiba-tiba melihat suatu hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah hubungan yang terlarang dan tabu. Padahal mereka pun tak bisa dipungkiri pernah mengalami masa-masa manis itu dan mengiyakan (dulunya, nih). Tapi setelah patah hati, orang-orang kebanyakan bilang pacaran itu "apa sih?", bahkan ada yang bilang "HARAM". Sebenarnya tergantung kita melihat sudut pandangnya dari mana. Kalo dari Indonesia dan tujuan saya sendiri ya sah-sah aja.... (Ibu dan ayah saya dulu sebelum menikah juga pacaran, kok! So???) Mungkin itu adalah salah satu dari sifat mereka yang ingin mensugesti diri sendiri kalo itu bukanlah hal yang baik, sembari menunggu nasib kejombloan mereka karena dari sifat ingin menang sendirinya mereka...



Kalau menurut saya..., janganlah suka menge-judge gitu. Bahwa sebenarnya pikiran manusia itu tidaklah sama dan kita tidak tahu apa yang terjadi dengan orang lain atas segala tindak tanduknya. Bahkan mereka terkesan berlebihan mengadu kepada Tuhan (apa gara-gara patah hati aja, nih?). Ya, saya harap meskipun Anda-Anda mempunyai pemikiran seperti itu, janganlah dimunculkan ke permukaan seolah-olah dirilah yang paling suci dan benar dan semua orang itu salah. Karena sesungguhnya orang-orang yang berhati suci adalah bukan orang yang taat fanatik beribadah, tapi hablumminannas-nya lah yang baik, yang bisa menghargai orang banyak tanpa menimbulkan perpecahan. Itu baru orang jempol namanya. Artinya dia bisa mengaplikasikan agama ke dalam kehidupannya sehari-hari sehingga kehidupannya bukan sekedar pahala yang entah tak tahu sudah batas mana timbangannya, tetapi menghasilkan keselarasan hidup karena dicintai orang banyak dan dikangenin orang banyak, yang bisa berbaur dengan siapa saja..... Bukan lah orang yang suka menghujat. Karena, menurut saya, orang-orang yang suka menghujat adalah orang-orang yang berhati kotor yang ingin selalu dianggap benar dan mencari pujian dengan berpura-pura berendah hati.


Pikirkan saja gimana dirimu, guys!

AHMAD DHANI MENURUTKU.. hhmmm...

Soal Ahmad Dhani,
Ahmad Dhani termasuk sesosok yang ku kagumi. Karena lagu-lagunya yang bermakna tajam dan cinta yang dalam. Aku kagum sama lagu-lagunya, dan sifat penyayang pada keluarga, perjuangan cintanya dengan mantan istrinya, Maia Estianty. Aku pun juga sangat mengagumi Bunda Maia (yang biasa disapa orang-orang) karena cantik, berwibawa, punya kharisma, dan pinter mix musik.


Mungkin semua orang juga udah tahu soal video yang menyatakan bahwa Ahmad Dhani seorang Yahudi. Aku sendiri nggak tahu apa itu benar apa nggak.Tapi yang jelas aku hanya ingin menilai dari sosok baiknya saja. Aku sempet flat soal musik made by Ahmad Dhani. Tapi ada sesuatu yang aku tangkap akhir-akhir ini dan coba mengingat seputar musik. Ahmad Dhani jadi juri Indonesian Idol,dan penilaiannya pas menurut aku. Karena Beliau tahu idola-idola yang bersifat menjual, dan menurut aku Beliau cukup fair dalam menilai. Tidak melihat fisik atau latar belakang orang itu seperti apa. Yang jelas menurut aku Beliau sudah tahu pangsa pasar musik yang sebenarnya dan sangat berpengalaman. Ditambah lagi yang aku kagum cara dia mengajari kontestan yang salah dalam memainkan nada "Mau dibawa ke mana" yang dia bilang bahwa itu nada minor, sambil memainkan tempo dengan tangannya. Penilaiannya logis, ngga sekedar bagus, tutup muka pake bantal kayak Anang, atau cibir....


Selera musik (kiblat musik) persis seperti yang aku suka, QUEEN :D


Entah kenapa Queen sangat cocok di telinga aku dan menurut aku, lagu-lagu Ahmad Dhani bayak masterpiece-nya yang cukup melodis, sama seperti Queen...


Aku harap, Ahmad Dhani agak mengurangi sifat arogannya dan bersikap sabar.... Karena jujur dulu aku sangat mengagumi Ahmad Dhani.

Monday, February 20, 2012

Menemukan cinta? :)

Belum terpikirkan untuk saat ini. Hanya saja seharusnya untuk seusiaku, aku sibuk dengan berbagai kencan yang membuatku fitting baju berulang-ulang di depan kaca.



Aku wanita yang cukup menarik ku pikir, cerdas iya... Dan mungkin taraf kecerdasan dan pemikiranku yang terlalu pemberani dan berwibawa membuatku terbatas dalam hal ini. Cinta... ya cinta.. Mungkin orang yang belum sepenuhnya mengenalku, mereka akan menganggap dengan mudah untuk mendekatiku. Tetapi setelah mengenal cukup lama, mereka akan berubah pikiran dan menganggapku sebagai sahabat, teman mereka menghabiskan waktu, bercanda, atau berdiskusi, bahkan bergossip. Karena aku jauh dari kesan perempuan manja yang sangat bergantung dengan laki-laki.  Kalaupun perasaan naksir itu ada, mereka-mereka itu tentunya akan berkeringat bila di depanku dan tidak bisa bicara.
Bukan berarti aku tidak butuh semua. Aku butuh itu semua. Tapi belum menemukan yang cocok dan pas saja.


Sempat terpikir olehku, untuk bertemu jodoh di bangku kuliah, seperti kisah romantis pamanku yang bertemu istrinya sewaktu kuliah. Mereka berjodoh meskipun berbeda fakultas, tapi sama-sama dari Indonesia, itulah yang menjadi takdir pertemuan mereka, hingga mereka sempat berpacaran, memutuskan untuk mengambil master terlebih dahulu, dan menikah setelah keduanya tamat S2. (Kerrreeennn banget sumpah! :D)


Aku kagum dengan laki-laki pintar yang telaten dan pekerja keras. Bukan berarti smart itu artinya mutlak dalam akademik. Pandai memasak, pandai bermain musik, dan humoris... Laki-laki seperti itu sangat membuatku kagum.... :) dan yang melihat wanita dari hatinya, yang diinginkannya bukan untuk sesaat saja, tetapi untuk menghabiskan masa tua bersama. :D