Kami yang merangkak dengan peluh
mengintip surya yang masih terlelap
oleh peluk erat kapas-kapas malam.
Kami yang menghabiskan separuh hidup kami
dengan penuh harapan.
Kami yang penuh dengan bulir lelah
khayal-khayal yang merajai kami.
Dan kami yang pulang dengan kelam
menyerahkan jiwa kami.
Kini.........
Kami yang dengan racun muka dan lidah
yang mengerut, kisut.
Kami yang teriak dengan penuh sesal.
Ampun......
Bayar peluh kami
Ganti separuh nyawa kami, darah kami
yang kucur mengucur
demi mengisi mimpi yang kosong keroncong.
Meski tungkak-tungkakmu mengendus-endus
dengan gagahnya di hadapan kami.
Meski kau telah foya huru-hara atas kami.
Menghujam......
Tertampik-tampik kami.
Ampun......
Kini kami hanya bisa teriak,
Hidup atau mati!
(by: Sang Pencinta)
Memang tidak ada satu pun di dunia ini yang bercita-cita menjadi seorang buruh. Saya yakin itu! Dengan seharian penuh bekerja dengan seragam alakadarnya menguras tenaga, mambanting tulang, memeras keringat, dengan upah yang sangat sedikit, bahkan sampai lupa makan, rumah, jalan-jalan, cita-cita yang lain. Memang sungguh ironis seperti itu. Mereka pergi pagi, sangat pagi, bahkan hari masih gelap. Bekerja seharian penuh non stop, pulang malam. Bagi mereka, rumah hanyalah untuk numpang tidur. Setiap hari seperti itulah yang mereka lakukan demi sesuap nasi. Makan apa adanya, yang penting bisa makan, bisa bayar listrik, bayar kontrakan, ya.............. lebih tepatnya bisa bertahan hidup.
Lalu, bagaimana kalau mereka sakit? Mereka tidak punya askes seperti PNS. Kalau ke praktik dokter, uang cuma cukup buat makan. Jalan satu-satunya ya...... obat warung yang dijual bebas di pasaran. Tapi, kalau opname ke rumah sakit? Kan mahal untuk beberapa hari, lalu obat-obat rumah sakitnya bagaimana? Bayarnya pakai apa? Oh iya, kan ada Kartu Miskn. Tapi..............., ngurus kartu miskin itu susah, ribet! Kalaupun punya, memangnya ada jaminan Rumah Sakit memfasilitasi sebaik mungkin, memberikan pelayanan sebagaimana mestinya? Coba lihat! Masih banyak kita lihat di berita televisi tentang masyarakat miskin yang enggan berobat ke Rumah Sakit karena khawatir tidak akan dilayani, sampai-sampai ada yang opname di teras. Sungguh ironis memang!
Ternyata memang tidak enak ya jadi orang miskin. Apapun jadi susah. Mau makan susah, sakit aja bisa jadi susah, kalau telat bayar kontrakan nanti diusir.
Nah, teman-teman sekalian! Para buruh juga tidak mau hidupnya seperti itu. Meskipun hidup dengan sangat berkecukupan, tentunya mereka juga punya cita-cita. Meskipun mereka seorang buruh, paling tidak mereka ingin anak-anak mereka jadi lebih baik ketimbang mereka. Mereka juga ingin anak-anak mereka sekolah setinggi-tingginya biar nggak jadi orang susah, biar tidak seperti mereka. Mereka juga ingin anak-anak mereka nantinya bisa jadi guru, insinyur, pengusaha, atau yang lainnya. Setiap manusia itu pasti punya cita-cita yang bagus. Pasti kita menginginkan yang terbaik.
Lalu, bagaimana dengan pelayangan Surat PHK buruh yang terjadi dewasa ini? Rasanya bukan saat ini saja terjadi pemberhentian kerja pada buruh. Dari dulu pun kita sering mendengar banyak buruh yang di-PHK. Di salah satu berita televisi saya pernah melihat seorang buruh, Nani (nama samaran) yang sudah tiga bulan hidup menumpang di rumah adiknya. Nani bersama tiga orang anaknya dan suaminya sudah tidak tahu lagi tinggal di mana setelah pelayangan surat PHK itu. Sebelumnya, gajinya tidak dibayar selama 5 bulan. Dengan derai air mata Nani mengungkapkan rasa kecewanya di depan kamera. Dia sudah kebingungan. Makan saja susah. Sampai-sampai suaminya yang juga seorang buruh harus beralih profesi menjadi penjual keripik singkong di jalanan demi sesuap nasi. Sungguh ironis memang!
Sebaiknya bagaimana? Jasa buruh memang harus dihargai. Tanpa mereka tentunya pabrik-pabrik ataupun industri lainnya tidak akan dapat berjalan. Mereka juga punya hak untuk dilindungi dan mendapat penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Hendaknya pemerintah lebih memperhatikan dan lebih melindungi hak mereka agar dapat mengangkat derajat hidup mereka.
Perusahaan seharusnya memberikan jaminan upah kepada mereka per bulannya bagaimanapun caranya, entah itu lewat jaminan kepada lembaga lain, atau pemberian hak istimewa kepada buruh-buruh senior. (saya masih terlalu awam soal ekonomi). Saya hanya berpikir ini mengenai etika social yang harus diperhatikan oleh perusahaan.
Selebihnya, marilah kita bersama-sama tolong-menolong kepada sesama. Jangan sampai kita melihat saudara kita kesusahan. Mungkin sebagai masyarakat biasa, kita harus menghargai mereka dengan cara bertenggang rasa dan menjaga silaturahmi yang baik. Karena kita semua adalah saudara.
Hidup itu tak pernah lepas dari penemuan jati diri. Selalu belajar di setiap usia. Mencari bahagia, mencari kedamaian, itulah hidup! Hingga kau temui di suatu muara yaitu, ternyata bahagia itu sederhana! Merasa nyaman dalam setiap kondisi! Jika akal yang diberikan-Nya tak mampu melepaskan dahaga ketidakcukupanku, maka aku hanya butuh naluri, layaknya binatang yang mampu membuat keluarganya bahagia hanya dengan bermodalkan naluri! Di saat itulah aku merindukan naluri kebinatanganku!
Tuesday, May 10, 2011
Percikan! (Keadaan yang berpihak)
Dear Chuck,
Aku banyak mengalami kejadian-kejadian yang membingungkan dan seolah aku lah aktor utama dari ini semua, beberapa hari terakhir ini. Aku juga banyak mengalami keadaan yang berpihak. Kau tahu? Aku dianggap seorang kriminil gara-gara kau. Aku dikira telah mencuri buku yang kau tulis ini. Aku keluar pintu perpustakaan kampusku dengan sisa-sisa tenagaku. Aku dikagetkan dengan alarm pintu kampus yang aku abaikan (karena aku tidak merasa bersalah). Aku terus saja berjalan enteng, sampai aku berhenti ketika seorang laki-laki paruh baya mencegatku, dan menginterogasiku, “apa yang kau bawa di tasmu dari dalam?”. Ya, ranselku memang kelihatan berat dan aku juga terlihat sangat lelah. Aku tidak mengerti pertanyaan laki-laki ini. Aku diajak masuk ke dalam, ke depan meja penjaga. Orang-orang melihatku. Alarm terus saja berbunyi. Aku belum mengerti ini semua (karena fikiranku betul-betul kosong dan aku sangat lelah). Aku hanya tersenyum menggeleng sambil menumpahkan kedua belah tangan di wajahku beralaskan tissue untuk menyapu keringatku. Aku masih belum mengerti.
Ooowww..., aku dikira mencuri buku dari dalam. Mahasiswa yang di atas balkon, di foto copy, di balik kaca, semua menuju pandangan ke arahku. Aku merasa seperti anak kecil yang ketahuan mengutil coklat di supermarket. Aku membuka tasku dan mengeluarkan bukumu. Sampul merah penuh mawar merah ku perlihatkan pada mereka. Aku bilang aku meminjamnya. Mereka tidak percaya. Lebih tepatnya aku memperpanjang waktu peminjaman, ujarku. Mereka memeriksa........, dan aku benar!
Di sini aku tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Maaf, Pak, saya bukan pencuri. Saya gak nyuri, Pak! Terbukti, kan.” Bapak penjaga di sana mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum, iya! Dan ia meminta maaf dan berkata bahwa bukumu belum dinetralkan kodenya lewat alarm pintu ini.
Aku tidak habis pikir bisa-bisanya bukumu belum dinetralkan lewat alarm ini, Chuck.
Aku lelah, aku sangat lelah, Chuck! Aku belum selesai membaca bukumu. Karenanya aku kurang mengerti bahasamu yang begitu abstrak. Aku masih 19 tahun. Aku hanya kaget ketika di Bab I ada sepucuk surat cinta dari seorang pria yang terluka. Aku membacanya berulang-ulang. Aku merasa sedih, kadang juga aku merasa lucu. Sungguh untuk mengkihlaskan sesuatu dan mempunyai ketulusan hati itu sangat indah, biar bagaimanapun kejadian yang menimpa kita.
Isinya:
Aku telah mencari selama hidupku untuk menemukanmu.
Engkau telah membuatku tersadar.
Sebelum ada kamu, Aku hanyalah seorang pria yang bodoh, seorang pria yang liar, seorang pria yang terluka.
Aku belum dijinakkan, tak mempercayai siapa pun dengan hati yang lari ini.
.......................................................................
Engkau mengajarkan kepadaku hadiah-hadiah yang manis dari keberanian untuk mencintai.
Denganmu aku berjalan keluar dari neraka-neraka yang telah kuciptakan sendiri.
..................................................................
Itulah penggalannya.
Buku ini lebih cocok untuk paman saya....!
Tapi yang paling aku suka adalah ketika kau menganjurkan untuk “MENIKMATI EMOSI”. Chuck, hanya kau lah satu-satunya yang pernah ku dengar bahwa tidak ada salahnya kita punya emosi. Kita manusia! Dan emosi itu manusiawi!
Chuck, aku bisa merasakan emosi ketika bermain musik. Tanpa emosi tentu lagu-lagu yang kumainkan tidak punya nyawa, atau lirik-lirik dari lagu yang pernah kuciptakan tidak akan dalam artinya, atau mungkin tulisan ini sendiri tidak akan hidup dan orang tidak akan tertarik untuk membacanya, berhenti begitu saja ketika di paragraf pertama.
Chuck, aku ingin terus menikmati emosiku. Aku ingin menggunakan emosiku dengan tepat. Akhir-akhir ini aku telah menggunakan emosi dengan cara yang salah. Bahkan aku telah melakukan suatu kebohongan besar karena emosi ini. Maafkan aku.... Chuck, aku sangat menyayangi teman-temanku..
Chuck, aku sangat lelah. Aku perlu istirahat. Aku butuh liburan. Aku ingin melupakan semuanya sejenak saja, Chuck.
Aku benar-benar sangat lelah. Tugas-tugas duduk manis di bahuku. Aku melangkah menunduk ke bawah. Aku tidak hiraukan debu yang ada di sepatuku.
Aku sangat lelah. Tenggorokanku sangat sakit, tepatnya tulang leherku bagian depan. Suaraku agak jernih, hanya saja tulangnya sepertinya terganggu. Mungkin karena aku terlalu banyak terisak waktu itu sampai aku lelah dan tertidur. Aku menghabiskan waktu berlama-lama di kamar mandi untuk mendinginkan kepalaku, sampai aku benar-benar dingin. Aku berharap semuanya baik-baik saja.
Aku letih sekali. Aku hanya tertuju pada lotion bersiap-siap ketika kulitku terasa sangat kering saat udara tengah malam yang dingin ini masuk lewat ventilasi kamar. Ventilasi ini banyak sekali!
Aku sangat lelah. Aku tidur dengan pikiran yang berkelebat. Buku berserakan di mana-mana, kertas-kertas. Kamar ini seperti kapal pecah!
Aku sangat lelah... Aku sangat lelah.. :’(... Aku terus terbangun, memikirkan apa yang belum aku kerjakan. Tapi aku tak ingin bergerak sedikitpun. Aku hanya tertuju pada ujung-ujung jariku yang merah jambu. Aku membayangkan esok seperti apa. Aku belum menyicil tugas Amigas yang banyak itu. Tenang, masih banyak waktu untuk mengejarnya. Aku hanya butuh mood baik saja.
Aku sangat lelah. Tidur yang buruk. Aku bangun pagi itu karena Ayah menelepon.
“Gimana? Sehat?”
“Heemmm..”
“Kuliahnya lancar?”
“Ya.”
“Dede, ada paket di Palembang tolong diambil ya, Nak. Kemarin Ayah kirim. Sebelah Gramed Atmo!”
“Hemm..”
Aku hanya diam, ya atau hemm, aku tak ingin ayah mendengar suaraku. Aku terus diam sampai Ayah menutup teleponnya.
Aku bangkit dan berharap hari ini jadi lebih baik. Haahh..., aku sangat lelah.
Aku mengabaikan pesan-pesan yang masuk tanpa membalasnya bahkan membacanya pun tidak. Aku mandi dengan segar. Aku sangat lelah! Aku ingin datang ke kampus dengan sangat pagi, duduk di barisan depan. Tapi , aku sangat lelah. Aku diam sejenak, berbaring di tmpat tidurku dengan tangan terlentang, menghadap langit-langit. Tidak tahu kenapa aku sangat lelah. Jika saja Shakespeare masih hidup, aku akan bertanya apakah racun mati suri 24 jam yang diminum oleh Juliette itu benar-benar ada? Jika ada, aku ingin meminumnya. 24 jam saja!
Aku tak sadarkan diri. Aku terasa beku. Aku sangat lelah. Tulang tenggorokan ini sakit sekali, apalagi ketika terisak. Aku mengangkat beberapa telepon yang masuk dengan secara spontan menjawab tanpa ku tahu apa pembicaraan itu. Terus saja aku mengabaikan pesan-pesan yang menunggu balasan. Aku enggan membacanya.
Aku lelah sekali, Tuhan. Aku seperti tidak pernah menyicip apa itu namanya tidur. Aku tidur dengan pulas. Aku menghabiskan waktu berjam-jam tertidur dengan jendela dan tirai yang terututup, tanpa lampu. Hanya seberkas cahaya yang menembus lubang-lubang ventilasi. Aku menghabiskan seharian ini dengan tidur.
Aku terbangun. Hari sudah sore. Aku membaca satu persatu pesan di ponselku. “AMIGAS HARI INI TIDAK KULIAH. IBU SAKIT.”
Haahh....., keadaan sangat berpihak padaku. Aku kira aku sudah kehilangan kuliah untuk hari ini. Aku mengecup layar ponselku. :’)
Lagi-lagi keadaan sangat berpihak padaku...
Aku banyak mengalami kejadian-kejadian yang membingungkan dan seolah aku lah aktor utama dari ini semua, beberapa hari terakhir ini. Aku juga banyak mengalami keadaan yang berpihak. Kau tahu? Aku dianggap seorang kriminil gara-gara kau. Aku dikira telah mencuri buku yang kau tulis ini. Aku keluar pintu perpustakaan kampusku dengan sisa-sisa tenagaku. Aku dikagetkan dengan alarm pintu kampus yang aku abaikan (karena aku tidak merasa bersalah). Aku terus saja berjalan enteng, sampai aku berhenti ketika seorang laki-laki paruh baya mencegatku, dan menginterogasiku, “apa yang kau bawa di tasmu dari dalam?”. Ya, ranselku memang kelihatan berat dan aku juga terlihat sangat lelah. Aku tidak mengerti pertanyaan laki-laki ini. Aku diajak masuk ke dalam, ke depan meja penjaga. Orang-orang melihatku. Alarm terus saja berbunyi. Aku belum mengerti ini semua (karena fikiranku betul-betul kosong dan aku sangat lelah). Aku hanya tersenyum menggeleng sambil menumpahkan kedua belah tangan di wajahku beralaskan tissue untuk menyapu keringatku. Aku masih belum mengerti.
Ooowww..., aku dikira mencuri buku dari dalam. Mahasiswa yang di atas balkon, di foto copy, di balik kaca, semua menuju pandangan ke arahku. Aku merasa seperti anak kecil yang ketahuan mengutil coklat di supermarket. Aku membuka tasku dan mengeluarkan bukumu. Sampul merah penuh mawar merah ku perlihatkan pada mereka. Aku bilang aku meminjamnya. Mereka tidak percaya. Lebih tepatnya aku memperpanjang waktu peminjaman, ujarku. Mereka memeriksa........, dan aku benar!
Di sini aku tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Maaf, Pak, saya bukan pencuri. Saya gak nyuri, Pak! Terbukti, kan.” Bapak penjaga di sana mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum, iya! Dan ia meminta maaf dan berkata bahwa bukumu belum dinetralkan kodenya lewat alarm pintu ini.
Aku tidak habis pikir bisa-bisanya bukumu belum dinetralkan lewat alarm ini, Chuck.
Aku lelah, aku sangat lelah, Chuck! Aku belum selesai membaca bukumu. Karenanya aku kurang mengerti bahasamu yang begitu abstrak. Aku masih 19 tahun. Aku hanya kaget ketika di Bab I ada sepucuk surat cinta dari seorang pria yang terluka. Aku membacanya berulang-ulang. Aku merasa sedih, kadang juga aku merasa lucu. Sungguh untuk mengkihlaskan sesuatu dan mempunyai ketulusan hati itu sangat indah, biar bagaimanapun kejadian yang menimpa kita.
Isinya:
Aku telah mencari selama hidupku untuk menemukanmu.
Engkau telah membuatku tersadar.
Sebelum ada kamu, Aku hanyalah seorang pria yang bodoh, seorang pria yang liar, seorang pria yang terluka.
Aku belum dijinakkan, tak mempercayai siapa pun dengan hati yang lari ini.
.......................................................................
Engkau mengajarkan kepadaku hadiah-hadiah yang manis dari keberanian untuk mencintai.
Denganmu aku berjalan keluar dari neraka-neraka yang telah kuciptakan sendiri.
..................................................................
Itulah penggalannya.
Buku ini lebih cocok untuk paman saya....!
Tapi yang paling aku suka adalah ketika kau menganjurkan untuk “MENIKMATI EMOSI”. Chuck, hanya kau lah satu-satunya yang pernah ku dengar bahwa tidak ada salahnya kita punya emosi. Kita manusia! Dan emosi itu manusiawi!
Chuck, aku bisa merasakan emosi ketika bermain musik. Tanpa emosi tentu lagu-lagu yang kumainkan tidak punya nyawa, atau lirik-lirik dari lagu yang pernah kuciptakan tidak akan dalam artinya, atau mungkin tulisan ini sendiri tidak akan hidup dan orang tidak akan tertarik untuk membacanya, berhenti begitu saja ketika di paragraf pertama.
Chuck, aku ingin terus menikmati emosiku. Aku ingin menggunakan emosiku dengan tepat. Akhir-akhir ini aku telah menggunakan emosi dengan cara yang salah. Bahkan aku telah melakukan suatu kebohongan besar karena emosi ini. Maafkan aku.... Chuck, aku sangat menyayangi teman-temanku..
Chuck, aku sangat lelah. Aku perlu istirahat. Aku butuh liburan. Aku ingin melupakan semuanya sejenak saja, Chuck.
Aku benar-benar sangat lelah. Tugas-tugas duduk manis di bahuku. Aku melangkah menunduk ke bawah. Aku tidak hiraukan debu yang ada di sepatuku.
Aku sangat lelah. Tenggorokanku sangat sakit, tepatnya tulang leherku bagian depan. Suaraku agak jernih, hanya saja tulangnya sepertinya terganggu. Mungkin karena aku terlalu banyak terisak waktu itu sampai aku lelah dan tertidur. Aku menghabiskan waktu berlama-lama di kamar mandi untuk mendinginkan kepalaku, sampai aku benar-benar dingin. Aku berharap semuanya baik-baik saja.
Aku letih sekali. Aku hanya tertuju pada lotion bersiap-siap ketika kulitku terasa sangat kering saat udara tengah malam yang dingin ini masuk lewat ventilasi kamar. Ventilasi ini banyak sekali!
Aku sangat lelah. Aku tidur dengan pikiran yang berkelebat. Buku berserakan di mana-mana, kertas-kertas. Kamar ini seperti kapal pecah!
Aku sangat lelah... Aku sangat lelah.. :’(... Aku terus terbangun, memikirkan apa yang belum aku kerjakan. Tapi aku tak ingin bergerak sedikitpun. Aku hanya tertuju pada ujung-ujung jariku yang merah jambu. Aku membayangkan esok seperti apa. Aku belum menyicil tugas Amigas yang banyak itu. Tenang, masih banyak waktu untuk mengejarnya. Aku hanya butuh mood baik saja.
Aku sangat lelah. Tidur yang buruk. Aku bangun pagi itu karena Ayah menelepon.
“Gimana? Sehat?”
“Heemmm..”
“Kuliahnya lancar?”
“Ya.”
“Dede, ada paket di Palembang tolong diambil ya, Nak. Kemarin Ayah kirim. Sebelah Gramed Atmo!”
“Hemm..”
Aku hanya diam, ya atau hemm, aku tak ingin ayah mendengar suaraku. Aku terus diam sampai Ayah menutup teleponnya.
Aku bangkit dan berharap hari ini jadi lebih baik. Haahh..., aku sangat lelah.
Aku mengabaikan pesan-pesan yang masuk tanpa membalasnya bahkan membacanya pun tidak. Aku mandi dengan segar. Aku sangat lelah! Aku ingin datang ke kampus dengan sangat pagi, duduk di barisan depan. Tapi , aku sangat lelah. Aku diam sejenak, berbaring di tmpat tidurku dengan tangan terlentang, menghadap langit-langit. Tidak tahu kenapa aku sangat lelah. Jika saja Shakespeare masih hidup, aku akan bertanya apakah racun mati suri 24 jam yang diminum oleh Juliette itu benar-benar ada? Jika ada, aku ingin meminumnya. 24 jam saja!
Aku tak sadarkan diri. Aku terasa beku. Aku sangat lelah. Tulang tenggorokan ini sakit sekali, apalagi ketika terisak. Aku mengangkat beberapa telepon yang masuk dengan secara spontan menjawab tanpa ku tahu apa pembicaraan itu. Terus saja aku mengabaikan pesan-pesan yang menunggu balasan. Aku enggan membacanya.
Aku lelah sekali, Tuhan. Aku seperti tidak pernah menyicip apa itu namanya tidur. Aku tidur dengan pulas. Aku menghabiskan waktu berjam-jam tertidur dengan jendela dan tirai yang terututup, tanpa lampu. Hanya seberkas cahaya yang menembus lubang-lubang ventilasi. Aku menghabiskan seharian ini dengan tidur.
Aku terbangun. Hari sudah sore. Aku membaca satu persatu pesan di ponselku. “AMIGAS HARI INI TIDAK KULIAH. IBU SAKIT.”
Haahh....., keadaan sangat berpihak padaku. Aku kira aku sudah kehilangan kuliah untuk hari ini. Aku mengecup layar ponselku. :’)
Lagi-lagi keadaan sangat berpihak padaku...
TRIBUTE TO BENCOOLEN
Bengkulu itu...., biji duren bisa jadi keripik...
Bengkulu itu...., kulit duren aja bisa jadi makanan! Dodol atau selai roti!
Bengkulu itu...., hhmmmm, kami punya kurma boong-boongan lho alias manisan terong yg persis ky kurma.. :p
Bengkulu itu...., orangnya kocak2 dan rame! =D
hahaa...., yg pasti yg paling bangga sama pelajarnya..., pada jago debat semua!!! d^^b !!! Dari SMP ampe SMA semuanya antusias dalam menulis dan debat.. Jadi ekskul yg paling bergengsi selama sekolah.
Aku merasakan hawa yang berbeda ketika berada di Bengkulu. Aku merasakan kedamaian, kehangatan, keramah-tamahan, keakraban, bahkan kekocakan orang-orangnya.
Meskipun ayahku orang Medan, bahkan kedua orang tuaku tidak pernah menyicip bangku pendidikan di Kota Bengkulu, tapi aku dengan bangga menyebut diriku orang Bengkulu. Aku lahir di Bengkulu, tinggal di Bengkulu, bersekolah di Bengkulu, dan dengan bangganya membawa nama Bengkulu ke luar.
Bengkulu menurutku adalah kota yang penuh inspirasi. Di mana aku merasakan hawa klasik melewati jalan pusat oleh-oleh yang kental dengan tradisionalnya, jalan yang sesekali sepi itu, dan aku sesekali memutar langkahku di trotoar, memasuki koridor jalan satu jalur yang penuh akan pepohonan. Aku merasakan kedamaian di sana. Aku bisa bebas bertelpon ria di jalanan, mengayun-ayunkan tasku (aman, ga ada pencopet! :p), duduk di pinggir-pinggir memperhatikan orang yang berlalu-lalang.
Orang-orang asli Bengkulu dengan logat khasnya, pemukimannya yang terdahulu, budaya dan adat yang kental, masih bisa ku rasakan. Aku melewati daerah itu yang penuh dengan rumah panggung berderet. Di sini ku ingat beberapa tahun lalu aku yang bertelanjang kaki di atas tanah, belajar tarian-tarian tradisonal. Kadang tanah yang becek tak kami hiraukan menyelip di sela-sela jari kaki kami. Pemilik sanggar dengan semangatnya mengajari kami untuk tampil di pagelaran. Sesekali kami terhibur dengan segerombolan anak-anak yang berlatih menabuh dol dengan penuh semangat di bawah pohon seris. Aku merasakan budaya yang sangat kental di sini, masih asli dan belum terjamah, memang sepertinya di daerah tempat sanggar ini belum ada perkawinan campuran, masih betul-betul penduduk asli.
Penduduk asli yang penuh keramah-tamahan dan keunikan, ada pula penduduk pendatang yang tersebar dengan membuka usaha kulinernya. Aku benar-benar merasakan kuliner terenak yang pernah ada. Semua makanan enak ada di sini. Semuanya enak. Di sini komplit.
Aku duduk di atas makam dengan santai. Aku merebahkan diri di makam itu sambil sedikit tertawa. Seorang bapak-bapak yang dengan sibuk dengan kameranya dari tadi pun tertawa dan berkata padaku, “Oi Dek, tau dak makam itu tu?” Langsung ku jawab, “Tau lah, Om. Hahahaa... Makam datuk Poyang ko. Maso dak buli rebahan di makam datuk dewek. Hahaha,” candaku. Itu adalah makam Inggris di Fort Marlborough. Sama sekali tidak terasa horror. Namanya juga makam Inggris, jadi disemen semua. Bisa duduk-duduk di sana, foto narsis-narsisan, bahkan aku pernah rebahan di sana. Untung ga dimarahi bapak penjaga! Hehehe... Oh ya, padahal aku udah 18 tahun di Bengkulu, tapi aku belum pernah masuk ke ruang pejabat Inggris. Sewaktu aku masuk, aku kaget dan tertuju pada sebuah denah atau konsep Benteng yang ditulis di atas kertas zaman dulu dan sudah di-laminating. Tapi keasliannya masih terasa, di tahun 1700-an. Tulisannya antik sekali. Aku sempat kagum dengan gaya tulisannya. Aku melihat foto-foto benteng itu dari tahun ke tahun beserta perkembangannya. Sudah 4 kali jatuh berpindah tangan, dari Belanda ke Inggris, dari Inggris ke Jepang, dari Jepang ke Indonesia. Tapi Inggris lah yang paling berpern 80 persen dalam pembangunan benteng ini. Bahasa dominanya aja bahasa Inggris.
Alunan Moonlight Sonata-Beethoven mengalun lembut di telingaku, di bawah pohon-pohon dan meriam yang bertebaran, langit yang agak memerah di sore hari ketika ku menengadahkan kepala ke atas,sore hari benar-benar indah. Dari atas aku bisa melihat pantai yang biru lautnya....., indah sekali... dan di sebelah samping adalah kampung Cina alias pemukiman Chinnese, penuh dengan lampion-lampion merah dan gapura naga. Aku melewatinya santai, bau asap dupa terasa sekali di hidungku. Ternyata aku hampir sampai di wihara, aku kaget melihat patung Buddha! Besar sekali, kebetulan pintunya tidak ditutup. Lalu aku meneruskan jalanku..., rumahnya masih sederhana, tersusun berderet-deret seperti rumah-rumah berbaris di Italia, atpi coraknya corak timur, dan hanya ada warna putih dan abu-abu yang digunakan. Seperti rumah di film-film vampire!! Wweeewwwwww....., aku jadi ngeri. Anak-anak putih sipit bermain kejar-kejaran di sekelilingku. Benar-benar kental suasana Tionghoanya. Di mana-mana ada pantai. Ya semuanya pantai, di mana-mana. Kuliner juga tidak ketinggalan. Di sana juga banyak sederetan kuliner. J
Pantai Panjang jadi kebanggaan, sepanjang 2 km mungkin ada, pohon-pohon cemara di pinggirnya, tidak seperti pantai kebanyakan yang dikelilingi pohon kelapa. Orang-orang biasa jogging di jogging track, atau bersepeda. Sewaktu pagi hari orang-orang bahkan senam jantung di pinggir pantai dengan dentuman ombak yang berdebur kencang dan tinggi itu. Tau kan gimana ombak kalo pagi-pagi tu ganas banget, lagi pasang! Lagi surut aja ganas apalagi pas lagi pasang.
Kota Bengkulu itu...., buat aku penuh inspirasi..... Semuanya penuh inspirasi.
Masjid Jamik yang didesain oleh Pak Sukarno..., hhhmmmm...., setiap sabtu sore aku menghabiskan ashar di sana, sepulang mengajar anak-anak Relief KIR SMPN 1. Karena sewaktu hendak pulang aku selalu melewatinya. Jadi aku kepalang tanggung mampir ke sana...
Ah, tidak ada habisnya jika bercerita. Semuanya penuh inspirasi dan unik. :D
Bengkulu itu...., kulit duren aja bisa jadi makanan! Dodol atau selai roti!
Bengkulu itu...., hhmmmm, kami punya kurma boong-boongan lho alias manisan terong yg persis ky kurma.. :p
Bengkulu itu...., orangnya kocak2 dan rame! =D
hahaa...., yg pasti yg paling bangga sama pelajarnya..., pada jago debat semua!!! d^^b !!! Dari SMP ampe SMA semuanya antusias dalam menulis dan debat.. Jadi ekskul yg paling bergengsi selama sekolah.
Aku merasakan hawa yang berbeda ketika berada di Bengkulu. Aku merasakan kedamaian, kehangatan, keramah-tamahan, keakraban, bahkan kekocakan orang-orangnya.
Meskipun ayahku orang Medan, bahkan kedua orang tuaku tidak pernah menyicip bangku pendidikan di Kota Bengkulu, tapi aku dengan bangga menyebut diriku orang Bengkulu. Aku lahir di Bengkulu, tinggal di Bengkulu, bersekolah di Bengkulu, dan dengan bangganya membawa nama Bengkulu ke luar.
Bengkulu menurutku adalah kota yang penuh inspirasi. Di mana aku merasakan hawa klasik melewati jalan pusat oleh-oleh yang kental dengan tradisionalnya, jalan yang sesekali sepi itu, dan aku sesekali memutar langkahku di trotoar, memasuki koridor jalan satu jalur yang penuh akan pepohonan. Aku merasakan kedamaian di sana. Aku bisa bebas bertelpon ria di jalanan, mengayun-ayunkan tasku (aman, ga ada pencopet! :p), duduk di pinggir-pinggir memperhatikan orang yang berlalu-lalang.
Orang-orang asli Bengkulu dengan logat khasnya, pemukimannya yang terdahulu, budaya dan adat yang kental, masih bisa ku rasakan. Aku melewati daerah itu yang penuh dengan rumah panggung berderet. Di sini ku ingat beberapa tahun lalu aku yang bertelanjang kaki di atas tanah, belajar tarian-tarian tradisonal. Kadang tanah yang becek tak kami hiraukan menyelip di sela-sela jari kaki kami. Pemilik sanggar dengan semangatnya mengajari kami untuk tampil di pagelaran. Sesekali kami terhibur dengan segerombolan anak-anak yang berlatih menabuh dol dengan penuh semangat di bawah pohon seris. Aku merasakan budaya yang sangat kental di sini, masih asli dan belum terjamah, memang sepertinya di daerah tempat sanggar ini belum ada perkawinan campuran, masih betul-betul penduduk asli.
Penduduk asli yang penuh keramah-tamahan dan keunikan, ada pula penduduk pendatang yang tersebar dengan membuka usaha kulinernya. Aku benar-benar merasakan kuliner terenak yang pernah ada. Semua makanan enak ada di sini. Semuanya enak. Di sini komplit.
Aku duduk di atas makam dengan santai. Aku merebahkan diri di makam itu sambil sedikit tertawa. Seorang bapak-bapak yang dengan sibuk dengan kameranya dari tadi pun tertawa dan berkata padaku, “Oi Dek, tau dak makam itu tu?” Langsung ku jawab, “Tau lah, Om. Hahahaa... Makam datuk Poyang ko. Maso dak buli rebahan di makam datuk dewek. Hahaha,” candaku. Itu adalah makam Inggris di Fort Marlborough. Sama sekali tidak terasa horror. Namanya juga makam Inggris, jadi disemen semua. Bisa duduk-duduk di sana, foto narsis-narsisan, bahkan aku pernah rebahan di sana. Untung ga dimarahi bapak penjaga! Hehehe... Oh ya, padahal aku udah 18 tahun di Bengkulu, tapi aku belum pernah masuk ke ruang pejabat Inggris. Sewaktu aku masuk, aku kaget dan tertuju pada sebuah denah atau konsep Benteng yang ditulis di atas kertas zaman dulu dan sudah di-laminating. Tapi keasliannya masih terasa, di tahun 1700-an. Tulisannya antik sekali. Aku sempat kagum dengan gaya tulisannya. Aku melihat foto-foto benteng itu dari tahun ke tahun beserta perkembangannya. Sudah 4 kali jatuh berpindah tangan, dari Belanda ke Inggris, dari Inggris ke Jepang, dari Jepang ke Indonesia. Tapi Inggris lah yang paling berpern 80 persen dalam pembangunan benteng ini. Bahasa dominanya aja bahasa Inggris.
Alunan Moonlight Sonata-Beethoven mengalun lembut di telingaku, di bawah pohon-pohon dan meriam yang bertebaran, langit yang agak memerah di sore hari ketika ku menengadahkan kepala ke atas,sore hari benar-benar indah. Dari atas aku bisa melihat pantai yang biru lautnya....., indah sekali... dan di sebelah samping adalah kampung Cina alias pemukiman Chinnese, penuh dengan lampion-lampion merah dan gapura naga. Aku melewatinya santai, bau asap dupa terasa sekali di hidungku. Ternyata aku hampir sampai di wihara, aku kaget melihat patung Buddha! Besar sekali, kebetulan pintunya tidak ditutup. Lalu aku meneruskan jalanku..., rumahnya masih sederhana, tersusun berderet-deret seperti rumah-rumah berbaris di Italia, atpi coraknya corak timur, dan hanya ada warna putih dan abu-abu yang digunakan. Seperti rumah di film-film vampire!! Wweeewwwwww....., aku jadi ngeri. Anak-anak putih sipit bermain kejar-kejaran di sekelilingku. Benar-benar kental suasana Tionghoanya. Di mana-mana ada pantai. Ya semuanya pantai, di mana-mana. Kuliner juga tidak ketinggalan. Di sana juga banyak sederetan kuliner. J
Pantai Panjang jadi kebanggaan, sepanjang 2 km mungkin ada, pohon-pohon cemara di pinggirnya, tidak seperti pantai kebanyakan yang dikelilingi pohon kelapa. Orang-orang biasa jogging di jogging track, atau bersepeda. Sewaktu pagi hari orang-orang bahkan senam jantung di pinggir pantai dengan dentuman ombak yang berdebur kencang dan tinggi itu. Tau kan gimana ombak kalo pagi-pagi tu ganas banget, lagi pasang! Lagi surut aja ganas apalagi pas lagi pasang.
Kota Bengkulu itu...., buat aku penuh inspirasi..... Semuanya penuh inspirasi.
Masjid Jamik yang didesain oleh Pak Sukarno..., hhhmmmm...., setiap sabtu sore aku menghabiskan ashar di sana, sepulang mengajar anak-anak Relief KIR SMPN 1. Karena sewaktu hendak pulang aku selalu melewatinya. Jadi aku kepalang tanggung mampir ke sana...
Ah, tidak ada habisnya jika bercerita. Semuanya penuh inspirasi dan unik. :D
Wednesday, January 19, 2011
Berceloteh seperti uang receh!
Semilir angin yang berhembus dari celah-celah ventilasi membuatku dingin sembari mata yang memerah, tak tahu ini jam berapa? Hanya ingin menulis saja, tanpa teman bicara, tanpa suguhan secangkir kopi wangi yg biasa kuhirup. Tidak, tidak lagi. Tidak bagus untuk kesehatan.
Memang aku bukanlah orang yang dikerumuni teman-teman untuk diminta pinjam catatannya, cuma alay, anak layo! hahahaa.....
Anak kos dari Bengkulu, lahir di Bengkulu, besar di Bengkulu, sekolah di Bengkulu. Lahir dari ibunda yang sangat solehah, dan ayah yang bertalenta....tapi keras kepala. Sama sepertiku, keras kepala, tapi di balik itu semua, hatiku sangat lemah....
Mengapa harus ada perbedaan? Mengapa?
Seperti orang Padang yg musti nikah sama orang Padang,
Orang Tionghoa musti nikah sama orang Tionghoa,
trus orang Batak juga musti nikah sama orang Batak???
Jadi ingat ayah dan ibuku yg nikah tanpa adat Batak sedikitpun. Tanpa acara mangupa-upa, lempar beras kuning, manortor, mandi kembang 7 rupa 7 mata air sungai 7 hari 7 malam, make ulos. Itu semua ga ada! Adat Bengkulu tok! Itu pun Bengkulu sekedarnya, bukan Bengkulu klasik yg penuh adat dan bisa sampai berhari-hari. Keluarga ayah ga ada yg dateng nih ceritanya. Kasian banget ya! Itu tu mitos orang Batak yg musti nikah sama orang Batak.
Trus, anak Layo juga musti temenan sama anak Layo ya???
Oh My God!!! Hell to the O, Hello!!!!
Ga mau neko-neko deh.. ga tau ya, ngerasa asing aja di kelas. Ato aku yg salah ya?
Ato kita yg dianggap kampungan??? Rasanya ga deh...., mohon maaf keluarga saya orang berpendidikan lah.... Ga maksud sombong ato apa. Mungkin sodara bisa kaget denger English ayah saya yg British bgt.
Males aja ngeliat semuanya... aku pengen pindah, aku pengen pergi dari ini semua. Ngeliat hasil kuliah yg kaya gitu, trus keadaan kelas yg kaya gitu. Mungkin emang aku yg bego, mungkin iya aku bego... tapi aku udah ngga tau musti gimana. Aku udah ngelawan semua rasa malasku..., semangat beli semua buku, fotocopy semua, pinjem2 juga dari perpus, baca buku yg bener2 aku ga ngerti di tengah malam, di antara saraf2 aku yg mulai menegang, gr2 maksain ini semua..., nurutin kata orang tua.
God plisss, aku minta reward semester ini.. Apa doa trus bacaan sujud aku pas solat hajat salah ya? Ato aku doanya ga sambil nangis makanya salah??? Ga tau deh, aku bingung... Minta solusi udah, aku pengen hengkang aja, malah kena marah, dibilang gapapa, gapapa, gapapa.... Bikin tambah bingung aja. Trus gimana masa depan aku????
Jujur klo udah begini caranya, aku udah enek mau muntah, aku udah ga peduli lagi sama masa depan aku, kayak temen2 yg pengen punya kerjaan bagus, punya rumah mewah, ato mobil mewah, trus bininya cantik.. Aku udah ga peduli, ga punya cita2 lagi, saraf aku semakin lama semakin tegang aaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrggggggghhhhhh...........
Tiap tidur ngerasa loncat dari gedung, trus kaget, kebangun, huuuaaa.... akhirnya stretching ampe cape biar bisa tidur lagi.
Udah tambah suasana kelas kaya gitu... aduuuhhh huhuuhuhuuuuu.... $##@%&()(*^&%$":**&!!!!!!
Bebas nulis apa aja... yg jelas ini ayah sama kakak adek ga bakal tau coz aku sembunyiin ni fb dari mereka.
Ga perlu dikasihanin ya, aku ga minta dikasihanin...bikin aku tambah sedih. Aku berteman dengan kalian tulus, aku minta kalian tulus juga, bukannya rasa kasihan..
Hanya saja perlu diubah, cara pandang kalian, yg ngerasa diri paling gaul sedunia, ato paling hebat. Kalo boleh ditanya, apa kalian pernah masukin dalam dompet duit 5 juta, hasil keringat kalian sendiri??? Banting tulang gitu? Ga yakin saya!
Sudah, sudah, sudah......
Bingung juga mo nulis apa lagi. Yg jelas, susah aja, hidup kaya punya kasta.....
Maaf klo ada kata2 yg salah, yg ada saran tulis aja di bawah, ato yg mau hina juga gapapa...
Sungguh, aku udah ga khawatir masa depan aku kayak gimana.
Yg pasti klo kita di atas, banyak orang yg menyanjung2 kita, ngaku2 klo kita temennya dia, ngaku2 deket nauzubillah, tapi ya giliran kita remuk aja kaya sampah, kita ga dianggap sama sekali.
Memang aku bukanlah orang yang dikerumuni teman-teman untuk diminta pinjam catatannya, cuma alay, anak layo! hahahaa.....
Anak kos dari Bengkulu, lahir di Bengkulu, besar di Bengkulu, sekolah di Bengkulu. Lahir dari ibunda yang sangat solehah, dan ayah yang bertalenta....tapi keras kepala. Sama sepertiku, keras kepala, tapi di balik itu semua, hatiku sangat lemah....
Mengapa harus ada perbedaan? Mengapa?
Seperti orang Padang yg musti nikah sama orang Padang,
Orang Tionghoa musti nikah sama orang Tionghoa,
trus orang Batak juga musti nikah sama orang Batak???
Jadi ingat ayah dan ibuku yg nikah tanpa adat Batak sedikitpun. Tanpa acara mangupa-upa, lempar beras kuning, manortor, mandi kembang 7 rupa 7 mata air sungai 7 hari 7 malam, make ulos. Itu semua ga ada! Adat Bengkulu tok! Itu pun Bengkulu sekedarnya, bukan Bengkulu klasik yg penuh adat dan bisa sampai berhari-hari. Keluarga ayah ga ada yg dateng nih ceritanya. Kasian banget ya! Itu tu mitos orang Batak yg musti nikah sama orang Batak.
Trus, anak Layo juga musti temenan sama anak Layo ya???
Oh My God!!! Hell to the O, Hello!!!!
Ga mau neko-neko deh.. ga tau ya, ngerasa asing aja di kelas. Ato aku yg salah ya?
Ato kita yg dianggap kampungan??? Rasanya ga deh...., mohon maaf keluarga saya orang berpendidikan lah.... Ga maksud sombong ato apa. Mungkin sodara bisa kaget denger English ayah saya yg British bgt.
Males aja ngeliat semuanya... aku pengen pindah, aku pengen pergi dari ini semua. Ngeliat hasil kuliah yg kaya gitu, trus keadaan kelas yg kaya gitu. Mungkin emang aku yg bego, mungkin iya aku bego... tapi aku udah ngga tau musti gimana. Aku udah ngelawan semua rasa malasku..., semangat beli semua buku, fotocopy semua, pinjem2 juga dari perpus, baca buku yg bener2 aku ga ngerti di tengah malam, di antara saraf2 aku yg mulai menegang, gr2 maksain ini semua..., nurutin kata orang tua.
God plisss, aku minta reward semester ini.. Apa doa trus bacaan sujud aku pas solat hajat salah ya? Ato aku doanya ga sambil nangis makanya salah??? Ga tau deh, aku bingung... Minta solusi udah, aku pengen hengkang aja, malah kena marah, dibilang gapapa, gapapa, gapapa.... Bikin tambah bingung aja. Trus gimana masa depan aku????
Jujur klo udah begini caranya, aku udah enek mau muntah, aku udah ga peduli lagi sama masa depan aku, kayak temen2 yg pengen punya kerjaan bagus, punya rumah mewah, ato mobil mewah, trus bininya cantik.. Aku udah ga peduli, ga punya cita2 lagi, saraf aku semakin lama semakin tegang aaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrggggggghhhhhh...........
Tiap tidur ngerasa loncat dari gedung, trus kaget, kebangun, huuuaaa.... akhirnya stretching ampe cape biar bisa tidur lagi.
Udah tambah suasana kelas kaya gitu... aduuuhhh huhuuhuhuuuuu.... $##@%&()(*^&%$":**&!!!!!!
Bebas nulis apa aja... yg jelas ini ayah sama kakak adek ga bakal tau coz aku sembunyiin ni fb dari mereka.
Ga perlu dikasihanin ya, aku ga minta dikasihanin...bikin aku tambah sedih. Aku berteman dengan kalian tulus, aku minta kalian tulus juga, bukannya rasa kasihan..
Hanya saja perlu diubah, cara pandang kalian, yg ngerasa diri paling gaul sedunia, ato paling hebat. Kalo boleh ditanya, apa kalian pernah masukin dalam dompet duit 5 juta, hasil keringat kalian sendiri??? Banting tulang gitu? Ga yakin saya!
Sudah, sudah, sudah......
Bingung juga mo nulis apa lagi. Yg jelas, susah aja, hidup kaya punya kasta.....
Maaf klo ada kata2 yg salah, yg ada saran tulis aja di bawah, ato yg mau hina juga gapapa...
Sungguh, aku udah ga khawatir masa depan aku kayak gimana.
Yg pasti klo kita di atas, banyak orang yg menyanjung2 kita, ngaku2 klo kita temennya dia, ngaku2 deket nauzubillah, tapi ya giliran kita remuk aja kaya sampah, kita ga dianggap sama sekali.
tulisan workshop (dengan penambahan) ... :)
Part I:
Eddy Iskandar bercerita padaku, “Sunyi itukadang-kadang mengerikan, sepi itu kadang-kadang melelapkan.” Tidakkah kau lihat kota mahasiswa yang gersang ini? Rasa ku tak sanggup menjalaninya 4 tahun ke depan. Ku selalu ingat rumah. Terjaga setiap malamnya, bangun pagi dengan perasaan was-was menjalani hidup di padang gersang ini dengan modul-modul dan buku-akuntansi akuntansi tebal yang siap menghantamku. Aku tak punya siapa-siapa di sini. Di antara lautan manusia, mengantuk di ujung kelas yang ku rasa seperti kuliah umum ini.
Ku jabat tangannya, tangan kecilnya. Matanya penuh isyarat. Aku tahu semua tanpa ia mengatakannya. Aku menertawakan semua leluconnya meski tidak lucu. Dia yang selalu menemani setiap langkah kecilku. Kami bersama, di debu-debu yang menghantam! Saat dunia tak seindah harapan. Dia gadis kecil itu.
Part II:
Tak kau lihatkah jiwa dan ragaku terpisah? Di padang gersang ini ragaku….. Jiwaku di Italia sana!!! Tak kau lihatkah Roma, Venice, Milan? Kau temui Ruh Shakespeare di sana. Di perempatan jalan, kan kau temui Romeo dan Juliette pergi menjauh dari Capuillet dan Montague. Nyonya kaya berjalan mengeluarkan bunyi mendesir dari kawat yang melingkar di gaun mewahnya. Atau merpati yang memenuhi jalan-jalan di kota tua? Sungguh sayang seribu sayang. Apalagi yang harus ku ceritakan tentang impian 5, 6, atau 7 tahun ke depan? Padang Gersang VS Negeri Romantis itu? Dengarlah sahabat……….
Secarik percikan di atas ku buat waktu workshop writing challenge beberapa waktu lalu, yg berkesempatan untuk ku baca di depan orang banyak dengan riuh orang-orang bersorak “wooooo” saat sedikit-sedikit kata-kata “padang gersang” atau “debu” yg notabenenya “the hot layo city” bergetar di mulutku.
Ehhhmmm….., maaf saya menelan ludah sedikit..
Ini tulisan mulanya adalah tugas workshop yg bertemakan “menceritakan teman yg duduk di sebelah Anda” dan untuk part 2 nya adl “percikan adegan”. Sebenarnya saya bingung mau nulis apa. Ini tulisan mengalir begitu saja dari dalam hati saya. Saya hanya memerlukan waktu 5 menit dengan penuh konsentrasi menuliskannya di secarik kertas kecil berukuran HVS dibagi empat! Mungkin lebih mirip kopelan ujian. :P
Saya yakin banyak orang yg tidak mengerti maksud tulisan ini. Sebenarnya bukannya saya bermaksud menjelek-jelekkan yg namanya “Layo”, nge-judge begitu daleemm… Tp ya sebenarnya byk keluhan saya:
Di Indralaya jarang dan susah mencari makanan yg enak. Makanan yg higienis pun perlu dilihat2 tempat penjualannya krn seirng terjadi endemik hepatitis setiap tahunnya yg menyerang mahasiswa.
Rumah sakitnya tidak ada. UPT kliniknya aja hanya buka senin-jumat dari jam 8.30-13.00 wib. Saya sih oke2 aja. Tp suatu hari saya sempat kaget dan kebingungan super duper keringatan dan pengen teriak sekencang-kencangnya ketika menghadapi teman kosan saya yg teriak2 kesakitan dlm keadaan urgent dan harus dibawa ke RS. *ga mungkin bgt kan ngetem bus gitu buat ke Palembang yg jaraknya kurang lebih 32 km dr pusat kota??? Saya mengutuk kota mahasiswa yg tidak punya jiwa mahasiswa ini!!!
Toko buku dan alat-alat tulisnya kurang memadai. Universitas lain yg di kabupaten ky di Jatinangor aja Gramednya ada, loh!
Di sini sering bgt mati lampu… =,=”
Bus yg tidak layak pakai, palagi berbahaya untuk keselamatan, terutama buat mahasiswa, masih juga dioperasikan. Walau sudah ada tindakan pelarangan, tp itu bus tetep aja dipake, sampai saya sport jantung, pak sopir bawa bus remnya ngendut2 gt, terus dibawa ngebut pula sampai saya nyebut ngelus2 dada sepanjang jalan.
Udah deh itu aja ya. Kebanyakan. Walau sebenarnya saya masih bisa tahan. Bisa bgt!! Namanya juga ini resiko yg musti saya hadepin, ya ga?? Tpi, apa layak toh universitas yg udah dies-emas kok ga berubah2 gitu? Paling ga negdukung gitu lingkungannya buat mahasiswa.Apalgi klo temen saya sakit ky kemarin lagi,,, ampun dah!!!
Udah, cukup ya, saya ga mau tambah sakit hati. Pemerintah seharusnya lebih berfikir. Jangan sibuk nyalonin keluarganya jd caleg, bupati, ato DPR!
Tulisan Part I di atas lebih mirip cowo yg mengagumi cewe ya kesannya. Entah kenapa lebih enak aja deskripsikan cewe itu, krn menurut saya ya perempuan itu indah! Ga jarang setiap saya bikin fiksi, saya lebih suka jadi cowo yg bercerita ketimbang cewe, dengan sudut pandang orang pertama. coz lebih hidup aja.. Tapi, sebenarnya itu saya ceritain teman saya yg cewe dan saya kenyatannya adl cewe!! hahaa.... *cewe tulen loh! :P
Eh, anyway!!! Kebetulan temen yg duduk di sebelah saya pas workshop yg saya certain itu temen sekelas saya yg udah saya kenal sejak daftar ulang, se-PA juga. Inget bgt waktu itu sama2 ngekos di gang buntu, trs pas pulangnya kami lari2 gitu keringetan krn ga ada angkot yg lewat ke sana. Jd kami musti on foot gitu loh!!!
“Ragaku di sini, dan jiwaku???”
Yg kuliah Cuma badan saya aja. Tapi pikiran saya ke mana2! Ke Sastra lah, ke jurnalistik lah, ke pers lah, seni lah, perfilman lah, investigasi lah.. Jd inget pas SMA penelitian buat lomba makalah ilmiah musti investigasi buat mecahin kasus… dan buat saya itu berguna bgt dan bisa nambah wawasan dan public speaking juga…
Kadang saya sempet berfikir klo pengen berenti kuliah,ngelamar jadi wartawan di surat kabar, sambil kuliah jurnalistik ato nulis fiksi lepas gitu. Sayang aja cewe, mungkin klo cowo udah saya lakuin, saya bisa bebas ke mana2! Lari dari rumah, Tidur di jalan pun gapapa ga bakal diganggu orang klo cowo, asal jgn diganggu banci aja! Hhehee… :D
Terserah orang mau bilang apa. Mungkin di mata teman-teman saya, saya adl orang yg ceria dan semangat, periang, spt ga ada beban, walau sebenarnya banyak tanda tanya di kepala saya, "Mengapa saya seperti ini? Mengapa saya begitu?" Welcome sama semua orang, suka berteman (walau sebenarnya banyak teman-teman saya yg cuek kpd saya karena masalah klasik alias ga pernah ngobrol, coz itu kelas bejibun 120 orang lebih!!!)
Saya ga lebih dari mahasiswa pecundang, yg ngakunya jago bgt Biologi, tapi ga punya nyali buat masuk kedokteran. Sebenarnya banyak alasan yg ga perlu saya sebutkan. Fisika, Matematika, Kimia, yg lemah di otak saya! Walau sebenarnya saya tu jarang bgt malah hampir ga pernah remed pas ujian 3 mata pelajaran itu. Saya tu cuma jago Biologi doang, udah cuma Biologi aja! Ga yg lain! Guru les saya pernah usul klo saya masuk kedokteran aja krn Biologi saya bagus, tp ya itu tadi saya kan bego bgt fisika, matematika, otomatis tiap tes saya pasti kalah. Yg menang palingan di TPA ( saya paling jago, lho! :P), English, Bahasa Indonesia, Biologi..., udah itu aja.. yg lainnya saya bego! Coz ga tau kenapa tiba2 nafsu buat belajar saya tu menurun drastis sejak SMA dan saya ga lebih dari anak malas yg kerjaannya ngebo tiap hari, bahkan masih pake seragam....., penuh putus asa, kekecewaan, dan ga mensyukuri hidup... Mungkin semua itu krn takdir..., seorang calon Paskibraka Indonesia yg tidak bisa ikut seleksi karena opname di RS selama hampir 2 bulan gara2 kena malaria tifus......
Dan saya maksain diri pula belajar Geografi, Sosiologi, Ekonomi, Sejarah dari 0 lagi buat ngambil IPC... $%^#@!*&^%^
Akhirnya.... terdamparlah saya di sini..., dengan mempelajari struk2 belanjaan...... :(
Saya juga ga lebih dari seniman kesiangan, yg takut buat mulai, atau ngelawan dunia. Alasannya saya takut terlena dan say bye bye sama kuliah saya... Karena saya tipe org yg moody, dan bukan tipe orang yg bisa nangkap 2 kelinci yg lari dlm waktu bersamaan.
Begitu byk org di sekeliling saya yg ngasih semangat buat saya, ngeyakinin saya, bilang kalo saya bisa, saya mampu, walau mereka ga tau sebenarnya IP saya jelek, ampun Ya Allah malu dah punya anak kayak gini. Saya mau IP saya di atas 3 Ya Alloh plissss….
Di sini banyak pelajarannya ... Banyak bangettt!!! Dari ngurus rumah ampe jinakin anjing pun saya tau! Bener saya ga boong loh. Saya bisa jinakin anjing loh sekarang.. :P walopun saya ga pernah mau ya nyentuh anjing sedikitpun!!
Bertemu dengan teman2 terbaik, berorganisasi, dsb... terutama orang2 yg berkesan di mata saya..
Mungkin klo saya ga kuliah di sini, saya ga akan bertemu dengan kalian teman....... :’)
Eddy Iskandar bercerita padaku, “Sunyi itukadang-kadang mengerikan, sepi itu kadang-kadang melelapkan.” Tidakkah kau lihat kota mahasiswa yang gersang ini? Rasa ku tak sanggup menjalaninya 4 tahun ke depan. Ku selalu ingat rumah. Terjaga setiap malamnya, bangun pagi dengan perasaan was-was menjalani hidup di padang gersang ini dengan modul-modul dan buku-akuntansi akuntansi tebal yang siap menghantamku. Aku tak punya siapa-siapa di sini. Di antara lautan manusia, mengantuk di ujung kelas yang ku rasa seperti kuliah umum ini.
Ku jabat tangannya, tangan kecilnya. Matanya penuh isyarat. Aku tahu semua tanpa ia mengatakannya. Aku menertawakan semua leluconnya meski tidak lucu. Dia yang selalu menemani setiap langkah kecilku. Kami bersama, di debu-debu yang menghantam! Saat dunia tak seindah harapan. Dia gadis kecil itu.
Part II:
Tak kau lihatkah jiwa dan ragaku terpisah? Di padang gersang ini ragaku….. Jiwaku di Italia sana!!! Tak kau lihatkah Roma, Venice, Milan? Kau temui Ruh Shakespeare di sana. Di perempatan jalan, kan kau temui Romeo dan Juliette pergi menjauh dari Capuillet dan Montague. Nyonya kaya berjalan mengeluarkan bunyi mendesir dari kawat yang melingkar di gaun mewahnya. Atau merpati yang memenuhi jalan-jalan di kota tua? Sungguh sayang seribu sayang. Apalagi yang harus ku ceritakan tentang impian 5, 6, atau 7 tahun ke depan? Padang Gersang VS Negeri Romantis itu? Dengarlah sahabat……….
Secarik percikan di atas ku buat waktu workshop writing challenge beberapa waktu lalu, yg berkesempatan untuk ku baca di depan orang banyak dengan riuh orang-orang bersorak “wooooo” saat sedikit-sedikit kata-kata “padang gersang” atau “debu” yg notabenenya “the hot layo city” bergetar di mulutku.
Ehhhmmm….., maaf saya menelan ludah sedikit..
Ini tulisan mulanya adalah tugas workshop yg bertemakan “menceritakan teman yg duduk di sebelah Anda” dan untuk part 2 nya adl “percikan adegan”. Sebenarnya saya bingung mau nulis apa. Ini tulisan mengalir begitu saja dari dalam hati saya. Saya hanya memerlukan waktu 5 menit dengan penuh konsentrasi menuliskannya di secarik kertas kecil berukuran HVS dibagi empat! Mungkin lebih mirip kopelan ujian. :P
Saya yakin banyak orang yg tidak mengerti maksud tulisan ini. Sebenarnya bukannya saya bermaksud menjelek-jelekkan yg namanya “Layo”, nge-judge begitu daleemm… Tp ya sebenarnya byk keluhan saya:
Di Indralaya jarang dan susah mencari makanan yg enak. Makanan yg higienis pun perlu dilihat2 tempat penjualannya krn seirng terjadi endemik hepatitis setiap tahunnya yg menyerang mahasiswa.
Rumah sakitnya tidak ada. UPT kliniknya aja hanya buka senin-jumat dari jam 8.30-13.00 wib. Saya sih oke2 aja. Tp suatu hari saya sempat kaget dan kebingungan super duper keringatan dan pengen teriak sekencang-kencangnya ketika menghadapi teman kosan saya yg teriak2 kesakitan dlm keadaan urgent dan harus dibawa ke RS. *ga mungkin bgt kan ngetem bus gitu buat ke Palembang yg jaraknya kurang lebih 32 km dr pusat kota??? Saya mengutuk kota mahasiswa yg tidak punya jiwa mahasiswa ini!!!
Toko buku dan alat-alat tulisnya kurang memadai. Universitas lain yg di kabupaten ky di Jatinangor aja Gramednya ada, loh!
Di sini sering bgt mati lampu… =,=”
Bus yg tidak layak pakai, palagi berbahaya untuk keselamatan, terutama buat mahasiswa, masih juga dioperasikan. Walau sudah ada tindakan pelarangan, tp itu bus tetep aja dipake, sampai saya sport jantung, pak sopir bawa bus remnya ngendut2 gt, terus dibawa ngebut pula sampai saya nyebut ngelus2 dada sepanjang jalan.
Udah deh itu aja ya. Kebanyakan. Walau sebenarnya saya masih bisa tahan. Bisa bgt!! Namanya juga ini resiko yg musti saya hadepin, ya ga?? Tpi, apa layak toh universitas yg udah dies-emas kok ga berubah2 gitu? Paling ga negdukung gitu lingkungannya buat mahasiswa.Apalgi klo temen saya sakit ky kemarin lagi,,, ampun dah!!!
Udah, cukup ya, saya ga mau tambah sakit hati. Pemerintah seharusnya lebih berfikir. Jangan sibuk nyalonin keluarganya jd caleg, bupati, ato DPR!
Tulisan Part I di atas lebih mirip cowo yg mengagumi cewe ya kesannya. Entah kenapa lebih enak aja deskripsikan cewe itu, krn menurut saya ya perempuan itu indah! Ga jarang setiap saya bikin fiksi, saya lebih suka jadi cowo yg bercerita ketimbang cewe, dengan sudut pandang orang pertama. coz lebih hidup aja.. Tapi, sebenarnya itu saya ceritain teman saya yg cewe dan saya kenyatannya adl cewe!! hahaa.... *cewe tulen loh! :P
Eh, anyway!!! Kebetulan temen yg duduk di sebelah saya pas workshop yg saya certain itu temen sekelas saya yg udah saya kenal sejak daftar ulang, se-PA juga. Inget bgt waktu itu sama2 ngekos di gang buntu, trs pas pulangnya kami lari2 gitu keringetan krn ga ada angkot yg lewat ke sana. Jd kami musti on foot gitu loh!!!
“Ragaku di sini, dan jiwaku???”
Yg kuliah Cuma badan saya aja. Tapi pikiran saya ke mana2! Ke Sastra lah, ke jurnalistik lah, ke pers lah, seni lah, perfilman lah, investigasi lah.. Jd inget pas SMA penelitian buat lomba makalah ilmiah musti investigasi buat mecahin kasus… dan buat saya itu berguna bgt dan bisa nambah wawasan dan public speaking juga…
Kadang saya sempet berfikir klo pengen berenti kuliah,ngelamar jadi wartawan di surat kabar, sambil kuliah jurnalistik ato nulis fiksi lepas gitu. Sayang aja cewe, mungkin klo cowo udah saya lakuin, saya bisa bebas ke mana2! Lari dari rumah, Tidur di jalan pun gapapa ga bakal diganggu orang klo cowo, asal jgn diganggu banci aja! Hhehee… :D
Terserah orang mau bilang apa. Mungkin di mata teman-teman saya, saya adl orang yg ceria dan semangat, periang, spt ga ada beban, walau sebenarnya banyak tanda tanya di kepala saya, "Mengapa saya seperti ini? Mengapa saya begitu?" Welcome sama semua orang, suka berteman (walau sebenarnya banyak teman-teman saya yg cuek kpd saya karena masalah klasik alias ga pernah ngobrol, coz itu kelas bejibun 120 orang lebih!!!)
Saya ga lebih dari mahasiswa pecundang, yg ngakunya jago bgt Biologi, tapi ga punya nyali buat masuk kedokteran. Sebenarnya banyak alasan yg ga perlu saya sebutkan. Fisika, Matematika, Kimia, yg lemah di otak saya! Walau sebenarnya saya tu jarang bgt malah hampir ga pernah remed pas ujian 3 mata pelajaran itu. Saya tu cuma jago Biologi doang, udah cuma Biologi aja! Ga yg lain! Guru les saya pernah usul klo saya masuk kedokteran aja krn Biologi saya bagus, tp ya itu tadi saya kan bego bgt fisika, matematika, otomatis tiap tes saya pasti kalah. Yg menang palingan di TPA ( saya paling jago, lho! :P), English, Bahasa Indonesia, Biologi..., udah itu aja.. yg lainnya saya bego! Coz ga tau kenapa tiba2 nafsu buat belajar saya tu menurun drastis sejak SMA dan saya ga lebih dari anak malas yg kerjaannya ngebo tiap hari, bahkan masih pake seragam....., penuh putus asa, kekecewaan, dan ga mensyukuri hidup... Mungkin semua itu krn takdir..., seorang calon Paskibraka Indonesia yg tidak bisa ikut seleksi karena opname di RS selama hampir 2 bulan gara2 kena malaria tifus......
Dan saya maksain diri pula belajar Geografi, Sosiologi, Ekonomi, Sejarah dari 0 lagi buat ngambil IPC... $%^#@!*&^%^
Akhirnya.... terdamparlah saya di sini..., dengan mempelajari struk2 belanjaan...... :(
Saya juga ga lebih dari seniman kesiangan, yg takut buat mulai, atau ngelawan dunia. Alasannya saya takut terlena dan say bye bye sama kuliah saya... Karena saya tipe org yg moody, dan bukan tipe orang yg bisa nangkap 2 kelinci yg lari dlm waktu bersamaan.
Begitu byk org di sekeliling saya yg ngasih semangat buat saya, ngeyakinin saya, bilang kalo saya bisa, saya mampu, walau mereka ga tau sebenarnya IP saya jelek, ampun Ya Allah malu dah punya anak kayak gini. Saya mau IP saya di atas 3 Ya Alloh plissss….
Di sini banyak pelajarannya ... Banyak bangettt!!! Dari ngurus rumah ampe jinakin anjing pun saya tau! Bener saya ga boong loh. Saya bisa jinakin anjing loh sekarang.. :P walopun saya ga pernah mau ya nyentuh anjing sedikitpun!!
Bertemu dengan teman2 terbaik, berorganisasi, dsb... terutama orang2 yg berkesan di mata saya..
Mungkin klo saya ga kuliah di sini, saya ga akan bertemu dengan kalian teman....... :’)
TIMNAS VS MERAH PUTIH THE MOVIE
Dua tahun belakangan ini saya terpana oleh Indonesia. Meski kata orang harga beras naik, cabe melambung, minyak goreng naik, bensin ga dapet subsidi, sampe ongkos travel pun ikut2an terancam naik.... tapi ya tetap ada aja yg bisa bikin saya bangga sama Indonesia....!!! :D
Di tahun 2009, Film Merah Putih yg sangat memukau di tengah2 17 Agustus, sampai saya nonton di studio 2 kali saking sukanya, Banyak pesan moral di sana... terutama nilai2 persahabatannya yg bikin saya kagum. Memang menurut pengamat film Indonesia, itu film seperti anak kecil main perang2an, tapi klo menurut saya, untuk ukuran Indonesia itu sudah sangat wah. Mungkin itu hanya dari segi teknis saja yang ya menurut saya bisa dimaafkan, meski saya agak kecewa karena ini film tidak masuk nominasi di Festival Film Indonesia selama 2 tahun berturut2.
Sampai saya ingat skenario2 di scriptnya:
Melati : "Saya lebih baik jadi istri guru, daripada janda jenderal."
Komandan: "Kamu tahu apa yg diajarkan oleh agamamu jika ada musuh? Jika ada yg menampar pipi kananmu, maka kau tawarkan pula pipi kirimu."
Thomas: "Agama Bapak juga mengajarkan untuk membayar mata dengan mata. Kitorang bisa betempur seperti macan!"
Marius: "Di mana ada pekerjaan menggali, di situ ada Marius."
Film merah putih menunjukkan Indonesia yg majemuk, dari budaya, sampai agama... yg menurut saya sangat wah, walaupun demikian, Indonesia tetap terkenal dengan keramahtamahnnya.. Klo saya bandingkan hidup di luar negeri mungkin saya akan kesepian dan sengsara dengan lingkungan sosialnya, apalagi saya menggunakan jilbab. Karena menurut novel2 yg sering saya baca, mereka hidup tertekan dan tidak bebas krn menggunakan jilbab di Australia, krn banyak org yg mengejek dan benci seolah2 teroris... Itulah makanya saya cinta dari Indonesia, kehidupan kekeluargaannya, lawaknya, rempeyeknya, bahkan tempenya... hhehehehee...
TIMNAS yg tidak kalah serunya, membuat saya menangis terharu mengingat keterpurukan sepakbola Indonesia selama berpuluh tahun.. Klo saya melihat Italia, saya jadi gigit jari sendiri, di mana Italia adalah rajanya pemain sepakbola sekaligus negara favorit saya... Saya pun rela ga tidur buat liat Totti, Gattuso, Zambrotta, Buffon, Del Piero, Coco, Matterazzi, De Rossi, dkk...
Apalagi supporternya yg tidak kalah mendukung dengan antusias yg sangat besar sampai rela2 mengecat semua badannya dengan merah putih, walau pada akhirnya cat itu luntur oleh keringat dan air mata.
Suporter layak dikasih jempol karena bisa menunjukkkan sportivitas dan tidak membuat kegaduhan.. Itulah kemenangan yg sesungguhnya.Timnas memang tidak menang di piala AFF, tapi Timnas telah memenangkan hati kami rakyat2 Indonesia. Dan Timnas telah menjadi pemenang hati kami!!! Rakyat Indonesia bisa bersatu karena timnas. Dari semua perbedaan, mereka bersatu padu untuk nama Indonesia. Baru kali ini saya liat Rakyat Indonesai bisa sekompak ini. Baru kai ini!! Indonesia telah membuktikan ada keseriusan untuk maju!
"GARUDA DI DADAKU, GARUDA KEBANGGAANKU. KU YAKIN HARI INI PASTI MENANG!!!"
Teringat piala dunia pas SD, itu lagunya Ricky Martin yg "GO GO GO ALE ALE ALE."
Tp Garuda di dadaku gak kalah seru dan bisa bikin darah mengucur deras palagi pas liat pertandingannya saraf2 saya jadi tegang dan suka teriak2 heboh sendiri...
Saya bangga, saya terkesan di stiap tahunnya. Semoga di tahun2 berikutnya akan ada hal2 yg membuat saya terkesan akan Indonesia.... :)
Di tahun 2009, Film Merah Putih yg sangat memukau di tengah2 17 Agustus, sampai saya nonton di studio 2 kali saking sukanya, Banyak pesan moral di sana... terutama nilai2 persahabatannya yg bikin saya kagum. Memang menurut pengamat film Indonesia, itu film seperti anak kecil main perang2an, tapi klo menurut saya, untuk ukuran Indonesia itu sudah sangat wah. Mungkin itu hanya dari segi teknis saja yang ya menurut saya bisa dimaafkan, meski saya agak kecewa karena ini film tidak masuk nominasi di Festival Film Indonesia selama 2 tahun berturut2.
Sampai saya ingat skenario2 di scriptnya:
Melati : "Saya lebih baik jadi istri guru, daripada janda jenderal."
Komandan: "Kamu tahu apa yg diajarkan oleh agamamu jika ada musuh? Jika ada yg menampar pipi kananmu, maka kau tawarkan pula pipi kirimu."
Thomas: "Agama Bapak juga mengajarkan untuk membayar mata dengan mata. Kitorang bisa betempur seperti macan!"
Marius: "Di mana ada pekerjaan menggali, di situ ada Marius."
Film merah putih menunjukkan Indonesia yg majemuk, dari budaya, sampai agama... yg menurut saya sangat wah, walaupun demikian, Indonesia tetap terkenal dengan keramahtamahnnya.. Klo saya bandingkan hidup di luar negeri mungkin saya akan kesepian dan sengsara dengan lingkungan sosialnya, apalagi saya menggunakan jilbab. Karena menurut novel2 yg sering saya baca, mereka hidup tertekan dan tidak bebas krn menggunakan jilbab di Australia, krn banyak org yg mengejek dan benci seolah2 teroris... Itulah makanya saya cinta dari Indonesia, kehidupan kekeluargaannya, lawaknya, rempeyeknya, bahkan tempenya... hhehehehee...
TIMNAS yg tidak kalah serunya, membuat saya menangis terharu mengingat keterpurukan sepakbola Indonesia selama berpuluh tahun.. Klo saya melihat Italia, saya jadi gigit jari sendiri, di mana Italia adalah rajanya pemain sepakbola sekaligus negara favorit saya... Saya pun rela ga tidur buat liat Totti, Gattuso, Zambrotta, Buffon, Del Piero, Coco, Matterazzi, De Rossi, dkk...
Apalagi supporternya yg tidak kalah mendukung dengan antusias yg sangat besar sampai rela2 mengecat semua badannya dengan merah putih, walau pada akhirnya cat itu luntur oleh keringat dan air mata.
Suporter layak dikasih jempol karena bisa menunjukkkan sportivitas dan tidak membuat kegaduhan.. Itulah kemenangan yg sesungguhnya.Timnas memang tidak menang di piala AFF, tapi Timnas telah memenangkan hati kami rakyat2 Indonesia. Dan Timnas telah menjadi pemenang hati kami!!! Rakyat Indonesia bisa bersatu karena timnas. Dari semua perbedaan, mereka bersatu padu untuk nama Indonesia. Baru kali ini saya liat Rakyat Indonesai bisa sekompak ini. Baru kai ini!! Indonesia telah membuktikan ada keseriusan untuk maju!
"GARUDA DI DADAKU, GARUDA KEBANGGAANKU. KU YAKIN HARI INI PASTI MENANG!!!"
Teringat piala dunia pas SD, itu lagunya Ricky Martin yg "GO GO GO ALE ALE ALE."
Tp Garuda di dadaku gak kalah seru dan bisa bikin darah mengucur deras palagi pas liat pertandingannya saraf2 saya jadi tegang dan suka teriak2 heboh sendiri...
Saya bangga, saya terkesan di stiap tahunnya. Semoga di tahun2 berikutnya akan ada hal2 yg membuat saya terkesan akan Indonesia.... :)
Monday, October 18, 2010
the great introducing
entah apa yg ingin ku tulis.
Yg jelas akhr2 ini aku ngalamin kjadian2 menakjubkan, kr2 kdekatan yg tak dikira.
Seorg teman lama yg tdk sengaja btemu lg dan mengakrabkn diri, tp sjujurnya saya tdk pernah melupakannya, krn dy cukup berkesan di mata saya. Dy sgt senang mendengar cerita2 saya, pengalaman saya, spt dongeng sblum tidur yg bikin full addicted.
Saya pun suka melihat dy yg suka mndengarkn crita saya. Sampai perlahan2 saya mrasa sgt dihargai di dunia ini mskpun dy knal saya baru sbentar, tetapi saya merasa dy kenal saya sudah bpuluh2 tahun krn tdk ada org yg sepengertian dy kpd saya.
Lama kelamaan saya mjd menyayanginya. Krn dy bgitu menghargai saya dan saya mrasa bkewajiban utk membalas smua perhatian dy ke saya.
Yg jelas akhr2 ini aku ngalamin kjadian2 menakjubkan, kr2 kdekatan yg tak dikira.
Seorg teman lama yg tdk sengaja btemu lg dan mengakrabkn diri, tp sjujurnya saya tdk pernah melupakannya, krn dy cukup berkesan di mata saya. Dy sgt senang mendengar cerita2 saya, pengalaman saya, spt dongeng sblum tidur yg bikin full addicted.
Saya pun suka melihat dy yg suka mndengarkn crita saya. Sampai perlahan2 saya mrasa sgt dihargai di dunia ini mskpun dy knal saya baru sbentar, tetapi saya merasa dy kenal saya sudah bpuluh2 tahun krn tdk ada org yg sepengertian dy kpd saya.
Lama kelamaan saya mjd menyayanginya. Krn dy bgitu menghargai saya dan saya mrasa bkewajiban utk membalas smua perhatian dy ke saya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
